Sejarah
Sejarah Desa Tegalsambi Jepara
Asal-Usul Nama Tegalsambi
Nama Tegalsambi berakar dari bentang alam awal saat wilayah tersebut dibuka:
Tegal: Merujuk pada tegalan, ladang, atau padang rumput yang luas.
Sambi: Berasal dari pohon kesambi (Schleichera oleosa) yang tumbuh subur dan rindang di kawasan tersebut.
Kombinasi kata ini menandakan kawasan tegalan yang dipenuhi deretan pohon sambi rimbun, tempat pertama kali pemukiman dan peternakan dibuka oleh para sesepuh desa.
Kisah Kiai Babadan dan Ki Gemblong
Tonggak sejarah desa ini bermula dari kedatangan seorang tokoh terpandang bernama Kiai Babadan (sebagian tradisi lisan mengaitkannya sebagai tokoh sepuh pembuka alas/desa). Kiai Babadan memiliki banyak hewan ternak—terutama kerbau dan sapi—yang menjadi sumber kemakmuran warga sekitar.
Untuk merawat hewan ternak tersebut, Kiai Babadan memercayakannya kepada seorang penggembala setia bernama Ki Gemblong.
Kelalaian di Sungai Kembangan: Ki Gemblong setiap hari bertugas menggembalakan ternak di padang rumput dekat aliran Sungai Kembangan. Namun, karena sungai tersebut kaya akan ikan dan udang, Ki Gemblong sering terlena menangkap ikan dan memanggangnya hingga melupakan tugas utamanya menjaga ternak.
Ternak Sakit dan Kurus: Akibat sering terkurung di kandang tanpa diberi makan dan minum yang cukup, hewan-hewan ternak milik Kiai Babadan jatuh sakit, kurus, bahkan beberapa di antaranya mati.
Peristiwa Lahirnya Perang Obor
Mengetahui kondisi ternaknya terbengkalai, Kiai Babadan menegur dan memarahi Ki Gemblong. Perselisihan memuncak di dekat kandang ternak pada malam hari:
Sabetan Obor: Kiai Babadan yang tersulut emosi mengambil obor dari pelepah kelapa kering (bluluk/klaras) dan menyabetkannya ke arah Ki Gemblong.
Perlawanan Membela Diri: Ki Gemblong tidak tinggal diam; ia turut mengambil obor yang menyala untuk menangkis sabetan tersebut. Keduanya saling serang menggunakan obor yang membara.
Keajaiban di Balik Percikan Api: Benturan kedua obor menimbulkan percikan dan lidah api yang berhamburan hingga mengenai tumpukan jerami dan kandang ternak. Anehnya, alih-alih menimbulkan petaka, hewan-hewan ternak yang semula sakit parah dan sekarat justru berlarian keluar dalam keadaan sembuh bugar tanpa luka bakar sedikit pun.
Makna dan Pelestarian Tradisi
Menyadari peristiwa tersebut membawa berkah dan petunjuk keselamatan dari Sang Pencipta, perselisihan pun berakhir dengan perdamaian.
Sejak saat itu, masyarakat Tegalsambi meyakini kobaran api tersebut sebagai tolak bala. Peristiwa ini kemudian diabadikan secara turun-temurun menjadi ritual adat Perang Obor, yang digelar setiap setahun sekali pada malam Senin Pahing di bulan Dzulqa'dah (Sela) sebagai bagian dari upacara sedekah bumi desa untuk memohon keselamatan, kesuburan, serta tolak bala bagi seluruh warga Tegalsambi.
Nama Tegalsambi berakar dari bentang alam awal saat wilayah tersebut dibuka:
Tegal: Merujuk pada tegalan, ladang, atau padang rumput yang luas.
Sambi: Berasal dari pohon kesambi (Schleichera oleosa) yang tumbuh subur dan rindang di kawasan tersebut.
Kombinasi kata ini menandakan kawasan tegalan yang dipenuhi deretan pohon sambi rimbun, tempat pertama kali pemukiman dan peternakan dibuka oleh para sesepuh desa.
Kisah Kiai Babadan dan Ki Gemblong
Tonggak sejarah desa ini bermula dari kedatangan seorang tokoh terpandang bernama Kiai Babadan (sebagian tradisi lisan mengaitkannya sebagai tokoh sepuh pembuka alas/desa). Kiai Babadan memiliki banyak hewan ternak—terutama kerbau dan sapi—yang menjadi sumber kemakmuran warga sekitar.
Untuk merawat hewan ternak tersebut, Kiai Babadan memercayakannya kepada seorang penggembala setia bernama Ki Gemblong.
Kelalaian di Sungai Kembangan: Ki Gemblong setiap hari bertugas menggembalakan ternak di padang rumput dekat aliran Sungai Kembangan. Namun, karena sungai tersebut kaya akan ikan dan udang, Ki Gemblong sering terlena menangkap ikan dan memanggangnya hingga melupakan tugas utamanya menjaga ternak.
Ternak Sakit dan Kurus: Akibat sering terkurung di kandang tanpa diberi makan dan minum yang cukup, hewan-hewan ternak milik Kiai Babadan jatuh sakit, kurus, bahkan beberapa di antaranya mati.
Peristiwa Lahirnya Perang Obor
Mengetahui kondisi ternaknya terbengkalai, Kiai Babadan menegur dan memarahi Ki Gemblong. Perselisihan memuncak di dekat kandang ternak pada malam hari:
Sabetan Obor: Kiai Babadan yang tersulut emosi mengambil obor dari pelepah kelapa kering (bluluk/klaras) dan menyabetkannya ke arah Ki Gemblong.
Perlawanan Membela Diri: Ki Gemblong tidak tinggal diam; ia turut mengambil obor yang menyala untuk menangkis sabetan tersebut. Keduanya saling serang menggunakan obor yang membara.
Keajaiban di Balik Percikan Api: Benturan kedua obor menimbulkan percikan dan lidah api yang berhamburan hingga mengenai tumpukan jerami dan kandang ternak. Anehnya, alih-alih menimbulkan petaka, hewan-hewan ternak yang semula sakit parah dan sekarat justru berlarian keluar dalam keadaan sembuh bugar tanpa luka bakar sedikit pun.
Makna dan Pelestarian Tradisi
Menyadari peristiwa tersebut membawa berkah dan petunjuk keselamatan dari Sang Pencipta, perselisihan pun berakhir dengan perdamaian.
Sejak saat itu, masyarakat Tegalsambi meyakini kobaran api tersebut sebagai tolak bala. Peristiwa ini kemudian diabadikan secara turun-temurun menjadi ritual adat Perang Obor, yang digelar setiap setahun sekali pada malam Senin Pahing di bulan Dzulqa'dah (Sela) sebagai bagian dari upacara sedekah bumi desa untuk memohon keselamatan, kesuburan, serta tolak bala bagi seluruh warga Tegalsambi.
Dipublikasikan pada: 29 Sep 2026
Bagikan: