Cerita Rakyat
Kiai Babadan dan Ki Gemblong: Awal Mula Perang Obor Tegalsambi
Konon, pada zaman dahulu, di Desa Tegalsambi tinggal seorang petani kaya raya yang dikenal dengan nama **Kiai Babadan**. Ia memiliki banyak ternak, terutama sapi dan kerbau. Karena jumlah ternaknya sangat banyak, Kiai Babadan meminta bantuan seorang penggembala bernama **Ki Gemblong** untuk merawat dan menggembalakan hewan-hewan tersebut.
Pada awalnya, Ki Gemblong menjalankan tugasnya dengan baik. Setiap hari ia menggembalakan ternak dan merawatnya. Sapi dan kerbau milik Kiai Babadan tumbuh sehat dan gemuk.
Namun, lama-kelamaan Ki Gemblong mulai lalai. Ia lebih tertarik mencari ikan di sungai dan membakarnya untuk dimakan. Karena terlalu asyik dengan kegemarannya, ia lupa mengurus ternak yang menjadi tanggung jawabnya.
Akibatnya, ternak milik Kiai Babadan mulai kurus dan sakit-sakitan.
Kiai Babadan merasa heran. Ia kemudian mencari tahu penyebab keadaan tersebut. Sampai akhirnya ia menemukan Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan, sementara ternak yang seharusnya dijaga justru terlantar.
Kiai Babadan menjadi sangat marah.
Pada saat itu hari mulai gelap. Kiai Babadan membawa obor yang dibuat dari pelepah kelapa kering atau **blarak**. Karena terbawa emosi, obor tersebut digunakan untuk memukul Ki Gemblong.
Ki Gemblong tentu saja tidak menerima perlakuan tersebut. Ia mengambil obor dan membalas Kiai Babadan.
Terjadilah pertarungan antara keduanya.
Obor saling beradu. Percikan api beterbangan di malam hari. Pertarungan semakin sengit hingga api menjalar dan membakar tumpukan jerami di sekitar kandang.
Ternak-ternak yang berada di dalam kandang menjadi ketakutan dan berlarian keluar.
Namun sebuah kejadian yang tidak disangka kemudian terjadi.
Ternak yang sebelumnya sakit dan lemas ternyata mulai membaik setelah keluar dari kandang. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, peristiwa tersebut kemudian dianggap sebagai pertanda bahwa api obor mampu mengusir penyakit dan marabahaya.
Kiai Babadan dan Ki Gemblong akhirnya menghentikan pertengkaran mereka.
Sejak saat itulah, menurut cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun, masyarakat Tegalsambi mengenang peristiwa tersebut melalui tradisi **Perang Obor**.
Perang Obor kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi sedekah bumi dan ritual tolak bala masyarakat Desa Tegalsambi. Hingga sekarang, tradisi tersebut tetap dilaksanakan sebagai warisan budaya yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan leluhur dan cerita masa lalu.
Pada awalnya, Ki Gemblong menjalankan tugasnya dengan baik. Setiap hari ia menggembalakan ternak dan merawatnya. Sapi dan kerbau milik Kiai Babadan tumbuh sehat dan gemuk.
Namun, lama-kelamaan Ki Gemblong mulai lalai. Ia lebih tertarik mencari ikan di sungai dan membakarnya untuk dimakan. Karena terlalu asyik dengan kegemarannya, ia lupa mengurus ternak yang menjadi tanggung jawabnya.
Akibatnya, ternak milik Kiai Babadan mulai kurus dan sakit-sakitan.
Kiai Babadan merasa heran. Ia kemudian mencari tahu penyebab keadaan tersebut. Sampai akhirnya ia menemukan Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan, sementara ternak yang seharusnya dijaga justru terlantar.
Kiai Babadan menjadi sangat marah.
Pada saat itu hari mulai gelap. Kiai Babadan membawa obor yang dibuat dari pelepah kelapa kering atau **blarak**. Karena terbawa emosi, obor tersebut digunakan untuk memukul Ki Gemblong.
Ki Gemblong tentu saja tidak menerima perlakuan tersebut. Ia mengambil obor dan membalas Kiai Babadan.
Terjadilah pertarungan antara keduanya.
Obor saling beradu. Percikan api beterbangan di malam hari. Pertarungan semakin sengit hingga api menjalar dan membakar tumpukan jerami di sekitar kandang.
Ternak-ternak yang berada di dalam kandang menjadi ketakutan dan berlarian keluar.
Namun sebuah kejadian yang tidak disangka kemudian terjadi.
Ternak yang sebelumnya sakit dan lemas ternyata mulai membaik setelah keluar dari kandang. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, peristiwa tersebut kemudian dianggap sebagai pertanda bahwa api obor mampu mengusir penyakit dan marabahaya.
Kiai Babadan dan Ki Gemblong akhirnya menghentikan pertengkaran mereka.
Sejak saat itulah, menurut cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun, masyarakat Tegalsambi mengenang peristiwa tersebut melalui tradisi **Perang Obor**.
Perang Obor kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi sedekah bumi dan ritual tolak bala masyarakat Desa Tegalsambi. Hingga sekarang, tradisi tersebut tetap dilaksanakan sebagai warisan budaya yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan leluhur dan cerita masa lalu.
Dipublikasikan pada: 29 Sep 2026
Bagikan: